Cerita di Balik Banjir Stok Beras di Gudang Bulog

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Cerita di Balik Banjir Stok Beras di Gudang Bulog

Redaksi
Rabu, 04 Maret 2020

DikepriNews.com, Jakarta - Beberapa minggu menjelang panen raya, gudang milik Perum Bulog di Kelapa Gading, Jakarta Utara, masih dipenuhi 1,6 juta ton stok beras. Jumlah itu termasuk sisa beras impor sebanyak 900 ribu ton. Padahal, kapasitas gudang Bulog terbatas, dan perusahaan pelat merah ini bakal menyerap 1,4 juta ton lebih beras tambahan saat panen nanti.

"Kami harus segera mengeluarkan beras-beras ini," kata Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso alias Buwas saat mendampingi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meninjau gudang ini, Rabu, 4 Maret 2020.

Di gudang ini, Bulog ternyata masih menyimpan beras sisa impor 2018 atau dua tahun lalu. Di salah satu tumpukan beras, Tempo sempat memantau sebuah map berjudul "Kartu Tumpukan". Di sana, tertulis bahwa jenis berasnya adalah beras India dengan awal tanggal penerimaan 25 Oktober 2018.

Situasi saat ini tak lepas dari kebijakan impor 2,25 juta ton beras yang dilakukan pemerintah pada 2018. Musababnya karena naiknya harga beras pada awal Januari 2018 ini. Tapi tak semua sepakat dengan kebijakan impor ini. Buwas adalah salah satunya.

Dengan keterbatasan gudang, sebenarnya Buwas tak setuju dengan impor beras itu. Meski demikian, impor tetap dilakukan dan ditampung di gudang Bulog. Barulah pada Desember 2019, persoalan kelebihan stok beras di gudang Bulog mencuat. Sempat muncul kabar Bulog akan memusnahkan 20 ribu ton beras yang sudah telanjur turun mutu. Tapi, Buwas membantahnya. Menurut dia, beras di gudangnya bisa saja diubah jadi tepung terigu atau pakan ayam.

Tapi kini,di tengah situasi yang ada, Buwas terus berupaya mengeluarkan beras-beras di gudang Bulog. Pertama lewat penjualan online di situs resmi perusahaan, panganan.com. Sejak tiga hari terakhir, Buwas menyebut penjualan beras di situs ini meningkat sampai Rp 171 juta per hari, dari hari biasa yang hanya Rp 70 sampai Rp 80 juta.

Kedua, Bulog menjual beras dengan harga murah di toko retail seperti Alfamart dan Indomaret untuk keperluan operasi pasar. Namun, setiap bulan, baru 150 ribu ton yang bisa dijual dengan mekanisme ini. "Tapi beras mudah itu bukan berarti kualitas rendah, itu untuk Public Service Obligation (PSO), untuk stabilisasi harga," kata dia.

Ketiga, Bulog berusaha mengeluarkan stok beras dari gudang lewat program Bantuan Pangan Non-Tunai (BNPT) yang bisa menyerap 50 ribu ton beras. Tapi tahun ini, pasokan beras Bulog belum bisa terserap untuk kebutuhan bencana alam. Sebab, pemerintah daerah ternyata telah punya cadangan beras masing-masing, yang dibeli dari uang mereka sendiri.

Dalam kesempatan yang sama, Erick Thohir mengakui beras sisa impor ini memiliki batas waktu hingga akhirnya busuk. Tapi, ia tetap yakin beras ini bisa dikeluarkan segera dari gudang.

Saat ditanya, berapa persen beras sisa impor yang kemungkinan akan busuk dan tidak bisa digunakan, Erick Thohir tak menjawab tegas. "Tapi ini sebentar lagi dengan panen raya masuk, beras ini keluar," ujarnya.
Sumber:Tempo.co