Bertemu, Trump dan Putin Akan Bahas Senjata Nuklir

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Bertemu, Trump dan Putin Akan Bahas Senjata Nuklir

Redaksi dikeprinews.com
Kamis, 06 Februari 2020

DikepriNews.com, Jakarta - Presiden Amerika Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin akan bertemu dalam waktu dekat untuk membahas kontrol terhadap persenjataan nuklir mereka. Sebab, perjanjian mereka yang sebelumnya akan habis masa berlakunya pada tahun depan.

"Kami akan mengkonfrontir Rusia untuk hal-hal yang diperlukan. Namun, saya rasa kami juga akan bernegosiasi tentang kontrol terhadap persenjataan nuklir di mana tidak hanya penting bagi Amerika dan Rusia, tetapi juga untuk keamanan dunia," ujar penasihat keamanan nasional Amerika, Robert O'Brien, sebagaimana dikutip dari CNN, Kamis, 6 Februari 2020.

Sebelumnya, Amerika dan Rusia sudah memiliki kesapakatan perihal persenjataan nuklir yang disebut sebagai perjanjian START. Kesepakatan itu, pada intinya, mewajibkan Amerika dan Rusia untuk sama-sama membatasi program pengayaan senjata nuklir mereka.

Salah satu bentuk pembatasan yang ada di perjanjian START adalah baik Amerika maupun Rusia hanya boleh membuat 1550 hulu ledak nuklir untuk 700 sistem mulai dari rudal jarak jauh, rudal kapal salam, bomber, dan masih banyak lagi. Perjanjian tersebut juga mewajibkan kedua negara menjalani 18 inspeksi dalam setahun untuk memastikan tidak ada yang mencoba melanggar kesepakatan .

Umumnya, untuk melahirkan sebuah kesepaktan baru, Rusia dan Amerika akan berdiskusi untuk jangka waktu yang cukup lama. Namun, beberapa bulan terakhir, tidak terlihat tanda-tanda dari Trump ingin melanjutkan kesepakatan tersebut. Banyak yang beranggapan Trump lebih memilih untuk memperkuat program nuklir Amerika sebelum O'Brien membantahnya dengan mengatakan Amerika akan bernegosiasi dengan Rusia.

Jika Amerika dan Rusia mencapai kesepakatan baru, maka perjanjian START akan berlaku lagi untuk 5 tahun ke depan, Jika tidak tercapai, sejumlah analis khawatir kedua negara malah akan saling berlomba untuk membuat senjata nuklir yang paling berbahaya dan kuat.

"Amerika dan Rusia menguasai 90 persen dari total persenjataan nuklir di seluruh dunia. Jika sampai kesepakatan START dibiarkan tidak berlanjut, maka kita akan hidup di dunia di mana baik Amerika maupun Rusia akan saling berlomba-lomba dalam membuat senjata nuklir," ujar mantan duat besar AS untuk Jerman serta negosiator perjanjian START, Richard Burt.
Sumber:Tempo.co