Penutupan Lokalisasi Sintai Bukan Solusi Menghapus Praktek Prostitusi

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Penutupan Lokalisasi Sintai Bukan Solusi Menghapus Praktek Prostitusi

Redaksi
Senin, 20 Januari 2020
dikeprinews.com, Batam - Penutupan lokalisasi Sintai oleh Pemerintah Kota Batam bukan menjadi solusi terbaik untuk menekan praktek prostitusi di kota Batam, Senin (20/01/2020).

Praktek prostitusi begitu banyak di Kota Batam yang utamanya Sintai disebabkan banyaknya peredaran minuman alkohol (Mikol) yang tidak terkontrol dengan baik oleh Pemerintah Kota Batam dan aparatur negara.

Pendamping Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Robaheni Saragih mengatakan bahwa penutupan lokalisasi tidak menjadi solusi terbaik bagi kota Batam.

"Penutupan Sintai sebagai tempat lokalisasi di kota Batam akan membuat Batam semakin kacau lagi," kata Robaheni.

Robaheni menilai dampak penutupan lokalisasi Sintai akan membuat para wanita pekerja seks komersial (psk) semakin berserakan. Bisa saja mereka menjajakan dirinya di berbagai tempat tanpa dapat diawasi.

Robaheni melanjutkan jika psk berserakan  tanpa terkontrol maka dikuatirkan peredaran HIV dan AIDS semakin meningkat di tengah-tengah kehidupan masyarakat kota Batam.

Masih menurut Robaheni untuk menangani praktek prostitusi di kota Batam adalah melakukan pengawas terhadap peredaran mikol.

"Peredaran mikol yang tidak terawasi sangat berdampak terhadap peningkatan jumlah tindak kejahatan di kota Batam," sebut Robaheni.

Robaheni menilai warga Batam masih banyak menjadi penikmat mikol. Kalau sudah minum mikol mengakibatkan mabuk dan menimbulkan hasrat untuk melakukan hubungan seksual semakin tinggi.

"Jadi para penikmat mikol untuk menyalurkan hasrat seksual mereka pergilah ke Sintai," terang Robaheni.

Masih menurut keyakinan Robaheni apabila pemerintah kota Batam menutup lokalisasi Sintai maka tindak pidana pemerkosaan akan meningkat drastis.

"Para wanita akan kuatir untuk melakukan mobilisasi pada malam hari jadinya," ungkap Robaheni.

Robaheni menerangkan bahwa harus berpikir lebih matang lagi jika ingin melakukan penutupan lokalisasi Sintai.

Robaheni menolak keras tindakan perdagangan manusia yang beberapa waktu lalu terjadi di lokalisasi Sintai. Terlebih lagi korbannya adalah anak di bawah umur.

"Praktek perdagangan manusia yang mengorbankan anak di bawah umur menjadi simbol bagi P2TP2A sebagai pelecehan  harkat, martabat perempuan dan anak di bumi bandar Madani," sebut Robaheni.

Robaheni meminta aparat kepolisian memproses pelaku perdagangan manusia di Sintai dan membongkar hingga ke akar-akarnya. (JP)