-->

Iklan

Iklan

Mahasiswa Dengan Politik

Redaksi diKeprinewscom
Sabtu, 07 September 2019, 7:42 PM WIB Last Updated 2019-10-29T12:59:10Z
Sepertinya masih relevan kata - kata Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa angkatan 1966, yang meninggal di Puncak Simeru, bahwa politik adalah barang yang kotor, lumpur - lumpur yang kotor, tapi suatu saat dimana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjulah. Gie menyampaikan seperti itu karena politik dipandangnya sangat - sangat kotor pada waktu itu.

53 tahun telah berlalu dan pada saat ini dengan berani kita mesti mengajukan pertanyaan untuk mengevaluasi kehidupan politik di tanah air. Apakah kehidupan politik kita sudah semakin baik? Pertanyaan reflektif tersebut hendaknya kita jawab dengan sejujur - jujurnya.

Kita semua, mahasiswa tahu bahwa sejak awal bahwa perjuangan untuk memerdekakan bangsa ini tidak lepas dari peran mahasiswa yang ada di dalam negeri maupun yang sedang belajar di luar negeri. Mahasiswa sungguh sadar bahwa kolonialisme harus dilawan, kolonialisme adalah bentuk pelacuran terhadap kemanusiaan.

Dengan segala perjuangan yang penuh dengan peluh, air mata, darah dan nyawa akhirnya negeri ini berhasil menyatakan kedaulatannya sebagai sebuah bangsa melalui proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno dan Hatta. Dalam konteks perjuangan kemerdekaan bangsa, mahasiswa mencatatkan dirinya sebagai pejuang yang gigih, intelektual yang berani terjun dalam soal - soal sosial politik kemasyarakatan, menendang kolonial, yang menjadi benalu dalam tubuh bangsa ini.

Pasca direbutnya kemerdekaan, bangsa ini mulai berusaha untuk berdikari, menentukan nasib dan sejarahnya sendiri. Ibarat seorang anak yang baru dilahirkan, menjadi bayi dan belajar berjalan, niscaya jatuh bangun dan tertatih - tatih sungguh dialami Indonesia. Kehidupan berbangsa terus berjalan, sampai akhirnya pada tahun 1966, rezim Soekarno dilengserkan oleh mahasiswa. Soe Hok Gie, Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, dll adalah aktivis mahasiwa yang memiliki peran besar dalam penumbangan rezim Soekarno.

Terdapat beberapa alasan logis dari mahasiswa untuk menumbangkan Soekarno. Pertama, Soekarno bersikap tidak tegas terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terus melakukan propaganda, hidden agenda PKI tentunya mengkomuniskan Indonesia.

Rakyat ingin PKI dibubarkan namun Soekarno ada dalam kondisi 'mendengar tapi tuli, melihat tapi buta'. Kedua, tercium niat dari Soekarno untuk menjadi presiden seumur hidup dengan memberlakukan sistem Demokrasi Terpimpin. Ketiga, ekonomi memburuk, Soekarno dan orang - orang disekitarnya juga diduga melakukan korupsi. Situasi sosial, politik dan ekonomi menjadi tidak terkendali. Atas soal tersebut, mahasiswa membuat gerakan dan mengambil sikap. Melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Soekarno pun dilengserkan.

Hal serupa terjadi kembali pada rezim Orde Baru, ketika rezim otoriter, memimpin selama 32 tahun, KKN bertumbuh subur, pelangaran HAM dilakukan oleh negara, membuat mahasiswa kembali bergerak. Tidak ada pilihan lain selain Soeharto harus diturunkan. 22 Mei 1998, mahasiswa menduduki gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Presiden.

21 tahun sudah berlalu, era yang penuh dengan kebebasan saat ini, yang kita sebut dengan reformasi adalah hasil dari perjuangan heroik mahasiswa. Di era ini, kebebasan sungguh - sungguh dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Pada prinsipnya, fakta sejarah Indonesia begitu representatif dalam menggambarkan peran besar mahasiswa dalam dinamika politik Indonesia. Mahasiswa menjadi bagian integral dalam politik Indonesia. Dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang anti terhadap politik adalah mahasiswa yang mengingkari kesejatian dirinya.

Saat ini harus diakui bahwa partisipasi mahasiswa dalam dinamika sosial politik bangsa ini begitu rendah. Pada Pilpres 2019 kemarin, mahasiswa menjadi bagian yang tidak diperhitungkan oleh kedua paslon yang bertarung, bahkan cendrung diekploitasi untuk mendukung salah satu paslon. Ditengah rendahnya partisipasi mahasiswa dalam soal - soal sosial politik, tetap ada sekelompok mahasiswa yang merawat idealismenya, dengan diskusi, berorganisasi dan terjun dalam soal - soal sosial politik. Namun tidak jarang juga yang pada akhirnya menjadi pragmatis, terbuai dengan rayuan penguasa, luntur idealisme dan nilai - nilai perjuangannya.

Berkaca pada sejarah, perjuangan - perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa selalu didorong dengan keinginan agar negeri ini menjadi lebih baik. Perjuangan mahasiswa tidak selesai dengan menumbangkan rezim jika rezim tersebut dinilai zalim. Hendaknya mahasiswa menyusun konsep - konsep besar yang sifatnya prefentif, dengan gigih memperjuangkannya, sehingga negeri ini selalu dikawal dan dipastikan selalu dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka sejarah akan mencatat bahwa mahasiswa tidak mampu belajar dari sejarah, selalu represfif, tidak menyusun langkah - langkah prefentif. Cara berpikir dan karakter terpelajar mahasiswa dipertanyakan.

Hal tersebut bisa terjadi jika mahasiswa tidak anti terhadap politik, senior aktivis mahasiswa mau tidak mau harus 'turun gunung', melakukan transfer knowledge kepada juniornya untuk terlibat dan soal - soal sosial politik. Karena mahasiswa yang sejati adalah mahasiswa yang membaca, menulis, berorganisasi dan melibatkan diri dalam soal sosial politik maupun di internal universitas itu sendiri dengan membawa politik nilai. Itulah cara mahasiswa berpolitik !

Hari ini, Indonesia memiliki begitu banyak persoalan. Persoalan - persoalan yang sedang hangat semisal 'Nyala Papua', polemik independensi pansel capim KPK, Amandemen Terbatas UUD 1945 pada GBHN dan masih banyak masalah lainnya hendaknya kembali memantik sensitifitas mahasiswa terhadap dinamika sosial politik di tanah air.

Kita, mahasiswa mesti sadar, kendati politik dianggap sebagai sesuatu yang kotor bahkan ditabuhkan, kebijakan - kebijakan terus dilahirkan dari ruang - ruang politik dan memengaruhi kehidupan orang banyak. Seorang penyair Jerman, Bertolt Brecht mengatakan bahwa buta yang terburuk adalah buta politik.

Sepertinya masih relevan yang disampaikan oleh Soe Hok Gie bahwa politik adalah barang yang kotor, lumpur - lumpur yang kotor, meski hal tersebut dikatakan jauh sebelumnya. Tapi suatu waktu saat dimana kita tidak dapat menghindari diri lagi maka terjunlah. Berpolitilklah sejak saat ini kawan - kawan mahasiswa selain karena mahasiswa adalah bagian integral dari politik, juga jika suatu waktu jika kita tidak dapat menghindari diri lagi dan terjun, kita tidak merasa baru dan asing ! Selamat berpolitik kawan - kawan !

Oleh : Efraim Mbomba Reda
( Mahasiswa Universitas Warmadewa ; Aktivis PMKRI Cab. Denpasar )
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Mahasiswa Dengan Politik

Terkini

Iklan